ABSORPSI DAN BIOVABILITAS

defenisi atau pengertian Absorpsi adalah proses pemisahan bahan dari suatu campuran gas dengan cara pengikatan bahan tersebut pada permukaan absorben cair yang diikuti dengan pelarutan. Kelarutan gas yang akan diserap dapat disebabkan hanya oleh gaya-gaya fisik (pada absorpsi fisik) atau selain gaya tersebut juga oleh ikatan kimia (pada absorpsi kimia). Komponen gas yang dapat mengadakan ikatan kimia akan dilarutkan lebih dahulu dan juga dengan kecepatan yang lebih tinggi. Karena itu absorpsi kimia mengungguli absorpsi fisik.
contohnya : absorpsi gas CO, H2S dengan laurtan; absorpsi asam dengan alkohol sedangkan adsorpsI
.Nanoteknologi mempunyai peran penting dalam program penemuan obat dan sistem penghantaran obat. Nanosuspensi sebagai bagian dari nanoteknologi dapat diberikan dengan berbagai rute pemberian obat seperti intravena, oral, parenteral, okular, topikal dan pulmonar. Bioavailabilitas obat oral yang rendah dapat disebabkan oleh rendahnya kelarutan, permeabilitas dan stabilitas obat dalam saluran pencernaan. Penurunan ukuran partikel pada sediaan nanosuspensi memecahkan masalah bioavailabilitas rendah yang disebabkan oleh rendahnya kelarutan, permeabilitas dan stabilitas obat (Arunkumar, et al., 2009).

Nanosuspensi adalah dispersi koloidal partikel obat ukuran nano yang distabilkan oleh surfaktan (Lakhsmi, et al., 2010). Dalam 10 tahun terakhir ini telah dikembangkan pendekatan lain untuk meningkatkan kelarutan dan kecepatan pelarutan senyawa aktif farmasi, yaitudengan mereduksi ukuran partikel senyawa aktif farmasi sampai ke ukuran yang ada dalam rentang nanometer atau submikron. Penurunan ukuran partikel tersebut berarti peningkatan luas permukaan, peningkatan kecepatan pelarutan dan dapat pula meningkatkan kelarutan senyawa aktif farmasi tersebut dalam air. Beberapa senyawa aktif farmasi dapat ditingkatkan bioavailabilitasnya setelah mereduksi ukuran partikelnya menjadi ukuran nanometer. Danazol yang merupakan senyawa aktif dengan sifat kelarutan yang sangat rendah dapat ditingkatkan bioavailibilitasnya menjadi 85% setelah pemberian nanopartikel danazol secara oral kepada anjing percobaan (Mauludin, et al., 2010).
Penurunan ukuran senyawa aktif farmasi menjadi ukuran nanometer dapat dicapai melalui berbagai macam cara, yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua teknik, yaitu teknologi bottom-up dan top-down. Teknologi bottom-up di antaranya dilakukan dengan menggunakan metode pengendapan (precipitation method) dari senyawa yang sukar larut air dalam dalam dua media pelarut yang saling bercampur.Sementara teknologi topdown dimulai dengan menghaluskan partikel kasar dalam media cair yang biasa disebut makrosuspensi. Penghalusan partikel dapat dilakukan dengan cara pearl/ball milling, homogenisasi dalam tekanan tinggi (high pressure homogenization-HPH), dalam air atau media bebas air, atau dengan kombinasi teknologi seperti metode pengendapan yang dilanjutkan dengan HPH atau ball milling yang dilanjutkan dengan metode HPH (Mauludin, et al., 2010).
Nanokristal senyawa obat adalah partikel dengan diameter antara 5-10 nm sampai 1.000 nm, terdiri dari obat murni tanpa ada matriks tambahan. Nanopartikel dapat seluruhnya berupa kristal, sebagian kristal sebagian amorf, dan diproduksi baikdengan teknologi bottom up ataupun top down. Nanosuspensi senyawa obat merupakan suspensi yang terdiri dari nanokristal senyawa obat.Nanosuspensi dapat dikatakan merupakan suspensi dari dispersi nanokristal yang distabilkan surfaktan atau polimer (stabilisasi sterik). Media pendispersi dapat berupa air, campuran air dan senyawa organik larut dalam air, atau media non air seperti minyak, polietilen glikol cair (PEG) (Mauludin, et al., 2010).
Penurunan ukuran partikel obat dalam rentang nanometer dapat meningkatkan tekanan dissolusi sehingga meningkatkan laju disolusi. Peningkatan laju disolusi perubahan tegangan permukaan pada partikel obat ukuran nanometer yang menyebabkan peningkatan kelarutan jenuh partikel tersebut. Energi yang masuk selama proses perubahan ukuran partikel menjadi ukuran nanometer menyebabkan terjadinya kenaikan tegangan permukaan pada partikel sehingga tekanan disolusi menjadi meningkat (Arunkumar, et al., 2009).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar